13 February 2026

Penurunan Daya Ingat pada Kaum Muda – Apa Penyebabnya?


Degradasi kognitif pada remaja saat ini, yang sering disebut sebagai  

brain rot, ditandai dengan penurunan kemampuan berpikir kritis, daya ingat lemah, sulit konsentrasi, dan perilaku impulsif akibat konsumsi konten digital pendek yang berlebihan. Fenomena ini dipicu oleh penggunaan gawai, paparan konten dangkal, serta kurangnya istirahat.  

Faktor dan Gejala Utama Degradasi Kognitif Remaja: 

• Brain Rot & Konten Digital: Paparan terus-menerus pada video pendek (Reels/TikTok) membuat otak terbiasa dengan informasi cepat, dangkal, dan instan, sehingga malas berpikir logis. 

• Penurunan Fungsi Eksekutif: Lobus prefrontal otak terdampak, menyebabkan remaja sulit fokus, impulsif, dan mengalami penurunan daya ingat. 

• Digital Dementia: Ketergantungan pada gawai untuk mengingat informasi (seperti nomor telepon atau rute jalan) melemahkan kemampuan memori jangka pendek. 

• Dampak Kesehatan Mental & Fisik: Kurang tidur, kelelahan digital, kecemasan, dan stres akibat penggunaan gawai berlebihan. 

• Penurunan Motivasi: Kehilangan motivasi untuk mencapai tujuan melalui proses panjang.  

Upaya Pencegahan dan Penanganan: 

• Digital Hygiene: Membatasi waktu layar (screen time), menggunakan aplikasi pengatur waktu, dan selektif terhadap konten. 

• Aktivitas Non-Digital: Meningkatkan aktivitas fisik, bermain di luar ruangan, membaca buku, dan melakukan interaksi sosial langsung. 

• Pola Hidup Sehat: Mengatur pola makan dan istirahat yang cukup untuk mendukung kesehatan otak. 

• Pendidikan Berpikir Kritis: Sekolah dan orang tua perlu mengajarkan logika dan analisis, bukan hanya konsumsi informasi.  

Fenomena ini merupakan ancaman serius bagi potensi produktif generasi muda jika tidak diantisipasi dengan literasi digital dan batasan yang tegas.  


Penurunan Daya Ingat pada Kaum Muda – Apa Penyebabnya? 


Masalah kesehatan tidak mengenal usia. Bahkan, semakin banyak anak muda mengalami penurunan daya ingat pada berbagai tingkatan. Memahami penyebab penurunan daya ingat pada individu muda merupakan cara efektif untuk mengembangkan langkah-langkah pencegahan, meningkatkan kesehatan neurologis, dan mendukung pemulihan daya ingat yang efisien. 

1. Apa itu Penurunan Daya Ingat? 

Penurunan daya ingat mengacu pada gangguan fungsi otak atau terputusnya proses pengiriman informasi dan ingatan ke korteks serebral. Kondisi ini juga dikenal dengan berbagai istilah seperti penurunan kognitif, gangguan daya ingat, sindrom kehilangan ingatan, atau disfungsi kognitif. Terlepas dari terminologinya, semuanya menggambarkan penurunan fungsi otak dan daya ingat secara bertahap dari waktu ke waktu. 

Studi terbaru menunjukkan bahwa 85% individu di bawah usia 50 tahun mengalami setidaknya satu masalah terkait dengan daya ingat yang buruk. Di antara mereka, 20–30% berusia di bawah 30 tahun, sedangkan kasus sisanya terkonsentrasi pada kelompok usia menengah. Statistik ini menyoroti realitas yang mengkhawatirkan, karena hingga 50% penurunan daya ingat pada individu muda berkembang menjadi demensia pada orang dewasa yang lebih tua, dengan penyakit Alzheimer sebagai faktor penting dalam kasus-kasus ini. 

Penurunan daya ingat membawa risiko tinggi untuk berkembang menjadi penyakit Alzheimer.

2. Penyebab Penurunan Daya Ingat pada Kaum Muda 

2.1 Radikal Bebas dalam Proses Metabolisme 

Salah satu penyebab umum penurunan daya ingat pada anak muda adalah dampak radikal bebas, yang dihasilkan selama proses metabolisme normal tubuh. Radikal bebas ini sering menyerang jaringan yang kaya lipid, terutama otak, yang mengandung 60% lipid tubuh. 

Pada individu muda, aktivitas metabolisme yang tinggi menghasilkan lebih banyak radikal bebas, meningkatkan risiko kerusakan sel saraf. Risiko ini diperparah oleh konsumsi makanan cepat saji, makanan tinggi kalori, stimulan, atau ketika tubuh berada dalam kondisi stres, kurang tidur, atau terpapar kondisi berbahaya lainnya. Seiring waktu, faktor-faktor ini dapat merusak otak dan mengakibatkan penurunan daya ingat. 

2.2 Penurunan Daya Ingat Akibat Depresi dan Stres 

Kaum muda sering menghadapi tekanan signifikan dari pekerjaan, studi, dan polusi lingkungan, yang membuat mereka rentan terhadap stres. Stres kronis membebani sistem saraf, secara langsung memengaruhi pusat kognitif di otak. Hal ini memperlambat waktu reaksi, menghambat konsentrasi, dan membuat pemecahan masalah menjadi lebih sulit, yang menyebabkan pikiran menjadi tidak fokus. Stres yang berkepanjangan dapat mengganggu fungsi otak dan secara bertahap memperburuk daya ingat. 

Stres berkepanjangan merupakan penyebab utama penurunan daya ingat pada kaum muda.

2.3 Gangguan tidur 

Tidur memainkan peran penting dalam kesehatan secara keseluruhan. Ini adalah waktu bagi tubuh untuk beristirahat, memulihkan energi, dan menghilangkan racun. Selama tidur, gelombang otak dihasilkan untuk menyimpan informasi, mentransfernya ke korteks prefrontal, tempat ingatan disimpan. 

Kurang tidur atau tidur yang tidak cukup mengganggu aliran informasi ke korteks prefrontal, yang menyebabkan kehilangan ingatan jangka pendek atau mudah lupa. Jumlah tidur yang disarankan untuk sebagian besar individu adalah 7–8 jam per hari, dengan kualitas tidur yang baik ditandai dengan tidur nyenyak, menyegarkan, dan bebas dari gangguan eksternal. 

Untuk mencapai kualitas tidur yang baik dan menyimpan memori secara efektif, sangat penting untuk mengurangi stres dan tekanan, menjaga pola makan seimbang, mengadopsi kebiasaan olahraga yang sehat, dan membatasi atau menghindari stimulan seperti alkohol, kopi, dan tembakau. Dengan melakukan hal tersebut, otak dapat pulih, stres dapat diredakan, dan risiko kerusakan otak serta penurunan daya ingat dapat diminimalkan. 

2.4 Beban kerja berlebihan 

Ketika tubuh dibebani terlalu banyak tanggung jawab secara bersamaan, otak menjadi kelelahan, yang merupakan penyebab umum penurunan daya ingat pada orang muda. Pendekatan terbaik adalah fokus pada satu tugas dalam satu waktu, mengatur pekerjaan secara efektif, dan menghindari menangani banyak masalah secara bersamaan untuk mengurangi risiko gangguan daya ingat. 

2.5 Kekurangan nutrisi 

Nutrisi merupakan faktor penting untuk menjaga kesehatan otak. Masalah seperti anemia defisiensi zat besi dapat menyebabkan kelelahan, pusing, dan kulit pucat. Dikombinasikan dengan tekanan hidup, faktor-faktor ini dapat berkontribusi pada penurunan daya ingat pada individu muda. 

Selain itu, kekurangan mineral tertentu, khususnya vitamin B (B1 dan B12), dapat berdampak negatif pada daya ingat. Vitamin B1 memainkan peran penting dalam memproduksi neurotransmiter, yang memengaruhi suasana hati, daya ingat, dan kognisi. Kekurangan vitamin B1 dapat menyebabkan sindrom Wernicke-Korsakoff, yang mengakibatkan kehilangan daya ingat jangka pendek atau jangka panjang. 

Kekurangan vitamin B1 dapat menyebabkan penurunan daya ingat.

3. Bagaimana Penurunan Daya Ingat Mempengaruhi Kehidupan Kaum Muda? 

Penelitian menunjukkan bahwa sel saraf mulai mengalami degenerasi setelah usia 20 tahun. Mulai usia 25 tahun, hingga 3.000 sel otak mati setiap hari tanpa digantikan. Sementara itu, faktor eksternal dan radikal bebas internal memperburuk degenerasi neuron, berdampak negatif pada memori dan memengaruhi kehidupan individu muda. 

3.1 Dampak pada Pekerjaan 

Anak muda yang mengalami penurunan daya ingat seringkali mudah teralihkan perhatiannya dan kurang fokus dalam belajar atau bekerja. Gangguan daya ingat mengurangi kemampuan mereka untuk berpikir kritis dan memecahkan masalah secara efektif. Akibatnya, mereka cenderung merespons secara lambat dan kesulitan memenuhi tuntutan tugas pekerjaan atau studi. 

3.2 Dampak pada Kehidupan Sehari-hari 

Penurunan daya ingat dapat проявляться dalam kehidupan sehari-hari melalui kesalahan sederhana, seperti lupa membawa uang saat berbelanja atau lupa mematikan lampu sebelum meninggalkan rumah. Seiring waktu, masalah ini dapat menyebabkan perubahan suasana hati, perilaku, dan emosi. Individu dengan penurunan daya ingat seringkali menjadi mudah tersinggung, yang dapat merusak hubungan dengan orang-orang di sekitar mereka. 

3.3 Dampak terhadap Kesehatan 

Para ahli menegaskan bahwa jika penurunan daya ingat pada anak muda tidak ditangani tepat waktu, hal itu dapat berkembang menjadi demensia dalam waktu tiga tahun. 

Pada titik itu, otak secara bertahap kehilangan kemampuannya untuk mengendalikan fungsi-fungsi vital, yang berdampak buruk pada kesehatan dan berpotensi menyebabkan kematian. Begitu demensia muncul, sel-sel otak menjadi rusak dan tidak dapat pulih, yang menyebabkan masalah seperti kematian sel, atrofi otak, kerusakan pembuluh darah otak, atau cedera pada materi putih. 

Penurunan daya ingat membawa risiko tinggi untuk berkembang menjadi penyakit Alzheimer

4. Pengobatan Penurunan Daya Ingat pada Remaja 

Ketika penurunan daya ingat belum parah, intervensi dini sangat penting untuk mencegah perkembangan lebih lanjut. Langkah terpenting adalah mengadopsi kebiasaan gaya hidup yang lebih sehat: 

• Olahraga: Aktivitas fisik teratur bermanfaat karena meningkatkan sirkulasi darah, pernapasan, dan meningkatkan pasokan oksigen dan nutrisi ke otak. 

• Manajemen Stres: Membatasi stres dan penyebabnya – faktor utama di balik penurunan daya ingat. Praktik seperti meditasi dan yoga dapat membantu memperbaiki suasana hati. Aktivitas fisik ringan ini meningkatkan sirkulasi darah, terutama ke otak, dan meningkatkan fungsi sistem saraf. 

• Nutrisi Seimbang: Kurangi konsumsi makanan tinggi karbohidrat, gula, dan stimulan seperti alkohol, tembakau, dan soda. Sebagai gantinya, konsumsi makanan kaya nutrisi yang mendukung kesehatan otak, seperti ikan berlemak (kaya omega-3), makanan tinggi vitamin B (misalnya, jamur, produk susu, biji-bijian utuh), dan makanan kaya kolin yang terdapat dalam telur unggas. 

• Latihan Memori: Ikuti permainan asah otak selama 15-30 menit sehari sebagai pengganti menghabiskan waktu berlebihan di media sosial. 

Untuk mengatur janji temu, silakan hubungiHOTLINEatau lakukan reservasi Anda langsungDI SINIAnda juga dapat mengunduhMyVinmecAplikasi untuk menjadwalkan janji temu lebih cepat dan mengelola reservasi Anda dengan lebih nyaman. 

Brain Rot Meluruhkan Daya Nalar


Degradasi kognitif pada remaja saat ini, yang sering disebut sebagai brain rot

Nrain rot, ditandai dengan penurunan kemampuan berpikir kritis, daya ingat lemah, sulit konsentrasi, dan perilaku impulsif akibat konsumsi konten digital pendek yang berlebihan. Fenomena ini dipicu oleh penggunaan gawai, paparan konten dangkal, serta kurangnya istirahat.  

Faktor dan Gejala Utama Degradasi Kognitif Remaja: 

• Brain Rot & Konten Digital: Paparan terus-menerus pada video pendek (Reels/TikTok) membuat otak terbiasa dengan informasi cepat, dangkal, dan instan, sehingga malas berpikir logis. 

• Penurunan Fungsi Eksekutif: Lobus prefrontal otak terdampak, menyebabkan remaja sulit fokus, impulsif, dan mengalami penurunan daya ingat. 

• Digital Dementia: Ketergantungan pada gawai untuk mengingat informasi (seperti nomor telepon atau rute jalan) melemahkan kemampuan memori jangka pendek. 

• Dampak Kesehatan Mental & Fisik: Kurang tidur, kelelahan digital, kecemasan, dan stres akibat penggunaan gawai berlebihan. 

• Penurunan Motivasi: Kehilangan motivasi untuk mencapai tujuan melalui proses panjang.  

Upaya Pencegahan dan Penanganan: 

• Digital Hygiene: Membatasi waktu layar (screen time), menggunakan aplikasi pengatur waktu, dan selektif terhadap konten. 

• Aktivitas Non-Digital: Meningkatkan aktivitas fisik, bermain di luar ruangan, membaca buku, dan melakukan interaksi sosial langsung. 

• Pola Hidup Sehat: Mengatur pola makan dan istirahat yang cukup untuk mendukung kesehatan otak. 

• Pendidikan Berpikir Kritis: Sekolah dan orang tua perlu mengajarkan logika dan analisis, bukan hanya konsumsi informasi.  

Fenomena ini merupakan ancaman serius bagi potensi produktif generasi muda jika tidak diantisipasi dengan literasi digital dan batasan yang tegas.  


Brain Rot Meluruhkan Daya Nalar 


Dampak negatif menggeser konten media sosial bukan hanya soal waktu terbuang, tapi juga pembusukan daya nalar. Brain rot mengintai tanpa disadari. 

Fenomena brain rot cukup menyita perhatian publik akhir-akhir ini. Brain rot menjadi persoalan serius tentang kemerosotan kemampuan berpikir dan kesehatan mental, khususnya pada generasi muda. 

Anak-anak hingga dewasa muda berselancar di media sosial tanpa mengenal waktu. Media sosial menjelma menjadi ruang pelarian dan hiburan. Membuat manusia terpaku dengan gawai sejak bangun hingga kembali tidur. 

Mengapa brain rot begitu mencemaskan? Pakar psikologi anak dan keluarga Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Sri Lestari, S.Psi., M.Si., Psikolog. berpendapat brain rot merupakan sinyal darurat atas krisis kendali diri dan buruknya literasi digital. Brain rot menunjukkan minimnya peran orang tua dalam mendampingi anak di era kemajuan teknologi digital yang kian masif. 

“Brain rot memang belum masuk dalam klasifikasi gangguan psikologis resmi dalam International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems (ICD) yang dikeluarkan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO. Tapi gejalanya nyata dan bisa mengarah ke gangguan yang lebih berat, seperti kecemasan atau depresi,” ujar Guru Besar Fakultas Psikologi UMS yang akrab disapa Tari itu, saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (7/7/2025). 

Mengenal Brain Rot 

Brain rot adalah kondisi penurunan fungsi kognitif akibat konsumsi konten digital yang dangkal dan berulang, seperti video pendek di TikTok, meme absurd, dan konten singkat lainnya yang tak membutuhkan daya nalar. 

“Informasi seperti itu membuat otak malas berpikir. Serabut saraf yang seharusnya aktif dan saling terhubung justru melemah karena tidak dipakai untuk analisis,” kata dia. 

Akibatnya, fungsi kognitif manusia mengalami kemunduran. Anak-anak dan remaja sulit konsentrasi, kehilangan daya ingat, tidak bisa menyaring informasi, dan cenderung impulsif.  

Kemajuan teknologi digital memang menjanjikan lonjakan produktivitas manusia. Namun, tanpa norma yang jelas dan literasi digital yang memadai, teknologi justru berisiko menjerumuskan generasi muda dan menjauhkan mereka dari potensi produktifnya. 


Merujuk pewartaan Kompas.id, Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2024 menunjukkan mayoritas pengguna internet di Indonesia berasal dari kelompok usia produktif. Generasi Z mendominasi dengan mencapai angka 34,40 persen, disusul generasi milenial sebesar 30,62 persen. Kelompok usia lain mencatatkan angka lebih kecil: Gen X sebesar 18,98 persen, generasi pasca-Z sebesar 9,17 persen, baby boomers sebesar 6,58 persen, dan pre-boomer sebesar 0,24 persen.  

“Nah, padahal kan tingginya penggunaan teknologi digital bagi kelompok muda sejalan dengan masifnya akses pada sejumlah kanal media sosial!” ucap Tari memvalidasi. 

Lebih jauh, Tari menjelaskan, bagian otak yang paling terdampak brain rot adalah lobus prefrontal. Bagian otak yang bertanggung jawab atas pengambilan keputusan dan pemrosesan informasi kompleks. “Ketika bagian ini tidak terlatih, individu cenderung mengandalkan insting, bahkan sampai mudah termakan hoaks,” kritis dia. 

Bahaya Kecanduan Gadget 

Dampak negatif media sosial tak berhenti di penurunan fungsi otak. Menurut laporan Newport Institute, menyerap informasi secara berlebihan dapat memicu kelelahan otak yang berujung pada kelelahan mental. Tak jarang, pengguna media sosial juga mengalami penurunan kepercayaan diri setelah terpapar konten yang tampak tak terjangkau kehidupan nyata. 

“Banyak remaja terjebak dalam social comparison. Mereka merasa kulitnya tidak mulus, hidupnya tidak seindah influencer, dan akhirnya merasa dirinya tak berharga. Ini akan menurunkan self-esteem, terparah memicu depresi,” jelas Tari. 

Self-diagnose atau diagnosis diri sendiri pun acap terjadi pada anak muda yang menelan mentah-mentah konten media sosial. Tak sedikit yang mengklaim depresi hanya karena dua hari mengalami sulit tidur, tanpa memahami konteks ilmiah di balik konten dangkal yang ia konsumsi.  

“Padahal dalam psikologi, diagnosis tidak bisa dilakukan sembarangan. Harus ada indikator yang jelas dan konsisten dalam rentang waktu tertentu,” tegasnya meluruskan. 

Paparan konten media sosial pada anak usia dini tak kalah mengkhawatirkan. Banyak orang tua memberikan gawai sebagai jalan pintas untuk menenangkan anak. Menurut Tari, mereka lupa bahwa layar bukanlah pengganti stimulasi tumbuh kembang yang seharusnya anak dapatkan melalui interaksi sosial, bermain, atau membaca. 

“Saya sering mengamati, misalnya di rumah makan gitu. Anak-anak balita diberikan gawai, sementara orang tuanya juga sibuk dengan HP masing-masing. Tidak ada dialog, interaksinya cuma pas menyuapi makan saja,” tutur dia merasa miris. 

Tak heran dalam beberapa tahun terakhir anak-anak mengalami keterlambatan bicara (speech delay), miskin kosakata, dan nirempati. “Kalau anak salah, misal gawainya dilempar, kan gawainya diam saja. Tapi kalau bermain dengan teman, dia belajar konsekuensi sosial. Ini yang hilang dari proses belajar mereka,” imbuh Tari. 

Peran Keluarga 

Tari menilai literasi digital orang tua di Indonesia masih rendah. Banyak yang membelikan gawai untuk anak tanpa memikirkan konsekuensinya.  

“Orang tua tidak tahu apa yang ditonton anak. Tidak tahu soal bahaya konten pornografi, kekerasan, atau video absurd yang merusak logika dasar anak,” tuturnya. Ia mencontohkan video animasi absurd seperti hiu memakai sepatu atau kursi dengan baling-baling sebagai konten yang membingungkan anak prasekolah. 

“Anak di usia itu harus mengenal dunia nyata dulu. Konsep dasarnya harus kuat. Kalau langsung dikasih yang aneh-aneh tanpa pendampingan, kacau jadinya,” protes Tari.  

Tak sedikit orang tua justru memilih untuk menghadiahkan gawai sebagai pelipur lara atau alat pengalih perhatian. Seolah menggantikan kehadiran orang tua untuk sang buah hati. Padahal, kehadiran orang tua secara emosional dan fisik sangat krusial dalam tahap perkembangan anak, terutama dalam mengenalkan realitas dan nilai-nilai dasar kehidupan. 

“Biarkan rumah berantakan karena anak bermain. Itu lebih sehat daripada anak diam dengan gadget di tangan,” ujarnya. Aktivitas sederhana seperti bermain masak-masakan, membangun tenda dari selimut, atau bersepeda di luar rumah jauh lebih berdampak dalam membentuk imajinasi, empati, dan kemampuan komunikasi anak. 

Penguatan literasi digital dan edukasi pengasuhan yang berkelanjutan harus dikedepankan. Tari menyayangkan, belum ada inisiatif serius dari pemerintah yang menyasar edukasi digital bagi orang tua.  

“Pemahaman yang memadai dari orang tua akan membantu upaya mendampingi anak, sekaligus mengarahkan penggunaan gawai secara lebih bijak,” imbuh Tari. 

Pentingnya membangun kendali diri sejak dini pun perlu ditekankan orang tua melalui pengalihan pada aktivitas yang positif. Salah satu cara efektif yang bisa diterapkan adalah membiasakan anak menabung. 

“Ada salah satu riset asal China yang pernah saya baca dan itu menarik. Hasilnya menunjukkan anak yang sejak kecil terbiasa menabung akan punya kontrol diri yang lebih baik saat remaja,” jelasnya. 

Cara Menjaga Kesehatan Mental Diri Sendiri 

Bagaimana cara menjaga kesehatan mental di tengah serbuan fenomena brain rot? Tari menyarankan pengguna untuk membuat rencana alokasi waktu harian yang realistis. Terutama menjadwalkan waktu untuk bermain gawai. 

“Scrolling tetap boleh, tapi dibatasi. Kalau bisa gunakanlah alarm. Misal, 15 menit scrolling, lalu lanjutkan aktivitas produktif,” saran dia. 

Kesadaran untuk mengatur waktu menjadi penting. Mengurangi paparan media sosial dan gawai bukan perkara mudah. Namun bukan hal yang mustahil dilakukan. 

Tari menekankan perubahan tetap bisa dilakukan, sekalipun untuk pecandu gawai. “Kuncinya memang harus lebih disiplin dan konsisten. Tapi kalau sudah yang gejalanya parah, harus segera mendapatkan bantuan seorang yang profesional,” tegasnya. 

Langkah-langkah sederhana seperti menyusun rutinitas positif, mengurangi paparan media sosial, dan memperkuat interaksi sosial bisa menjadi awal untuk menjaga kesehatan mental di era digital. Di tengah masifnya arus informasi, disiplin dalam mengelola perhatian menjadi salah satu kunci agar otak tetap sehat dan jiwa tetap utuh. 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Scholarship Information :

Posting Terkini di e-Newsletter Disdik :

Arsitektur today :