13 February 2026
Brain Rot Meluruhkan Daya Nalar
08 May 2022
Aryanto Misel Cipta Alat Pengubah Air Jadi Bahan Bakar
Aryanto Misel (67), warga Kabupaten Cirebon, Jawa Barat berinovasi membuat sebuah alat yang mampu mengonversi air menjadi hidrogen dan bisa digunakan sebagai bahan bakar untuk kendaraan bermotor. Alat tersebut diberi nama Nikuba yang merupakan akronim dari Niku Banyu atau dalam bahasa Cirebon berarti Itu Air. Saat ditemui di kediamannya di Lemahabang Wetan, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon, Aryanto bercerita tentang perjalanan panjang dalam proses pembuatan alat tersebut. Aryanto mengaku membutuhkan waktu hingga 5 tahun untuk menciptakan alat yang mampu mengubah air menjadi hidrogen sebagai bahan bakar untuk kendaraan bermotor. Modal yang dikeluarkan saat melakukan riset pun tidak sedikit. Aryanto menjelaskan mekanisme kerja dari Nikuba. Ia mengatakan, alat tersebut memiliki fungsi untuk memisahkan antara Hidrogen (H2) dan Oksigen (O2) yang terkandung di dalam air (H2O). "Hidrogen ini yang nantinya akan masuk ke ruang pembakaran mesin. Sementara Oksigennya akan kembali dielektrolisis menjadi Hidrogen untuk kembali ke ruang pembakaran mesin," kata Aryanto kepada detikJabar, baru-baru ini. Untuk sekitar 1 Liter air yang ada di dalam Nikuba ini diklaim mampu menempuh perjalanan dari Cirebon hingga Semarang, pulang pergi. Namun, air yang bisa digunakan dalam alat Nikuba ini hanyalah yang sudah tidak memiliki kandungan logam berat. "Rencananya nanti habis Lebaran kita mau test drive lagi dari Cirebon ke Bandung pulang pergi," kata Aryanto. Sejauh ini, alat penemuan Aryanto telah terpasang di sebanyak 30 unit motor dinas milik TNI dari Kodam III Siliwangi. Terbaru, Nikuba milik Aryanto juga dipasangkan di 1 unit motor dinas milik anggota TNI dari Koramil Lemahabang. Video: @@kabanegri Teks: detik.com
25 July 2018
Saat Anak Atau Adikmu Main iPad, Anak-Anak Bos Google dan Apple Asyik Main Tanah di Sekolah
“Apakah keputusan mengenalkan komputer pada anak sejak usia dini itu tepat?”
Para petinggi Google, Apple, Yahoo, HP hingga eBay mengirim anak-anaknya ke sekolah yang sama sekali tak punya komputer
![]() |
| petinggi perusahaan teknologi mengirim anak-anaknya ke sekolah tanpa komputer via galleryhip.com |
Ketika sekolah-sekolah lain memasukkan komputer dalam kurikulum dan berlomba membangun sekolah digital, Waldorf School of the Peninsula justru melakukan sebaliknya. Sekolah ini dengan sengaja menjauhkan anak-anak dari perangkat komputer.
30 May 2017
Inilah 10 YouTuber dengan Penghasilan Tertinggi di Dunia
Lalu siapa saja mereka para YouTuber yang mampu menghasilkan bayaran tertinggi dari media sosial yang didirikan oleh Chad Hurley, Steve Chen, Jawed Karim ini? Berikut ulasannya.
Penghitungan Penghasilan oleh Forbes
YouTuber Peringkat 10 Hingga 7
04 May 2017
Naufal Rizki, pelajar kelas 2 MTSN Langsa Sulap Pohon Kedondong Jadi Sumber Listrik
Naufal Rizki, pelajar kelas 2 MTSN Langsa Lama, Kota Langsa, Aceh mampu menemukan energi. Uniknya Naufal menemukan energi listrik dari pohon kedongdong.
Anak pertama dari dua bersaudara pasangan Supriaman dan Deski ini sebelumnya hanya coba-coba. Berawal dari pelajaran di sekolah, Naufal akhirnya berhasil menciptakan tenaga listrik dari batang pohon.
"Awalnya saat saya mempelajari ilmu pengetahuan alam, saya membaca bahwa buah yang mengandung asam katanya bisa menghantarkan listrik, akhirnya saya lakukan uji coba pada buah kentang. Setelah itu saya berpikir lagi, kalau buahnya mengandung asam berarti pohonnya juga mengandung asam, akhirnya dia saya mulai melakukan eksperimen," ujarnya kepada SINDOnews di acara Pertamina Science Fun Fair 2016, Jakarta, Sabtu (29/10/2016).
Dia menjelaskan, pertama kali eksperimen itu dilakukan pada pohon mangga dan ternyata tidak layak. Akhirnya saya menemukan kedondong pagar yang kadar asam atau getahnya mampu menghantarkan listrik.
Meski demikian, Naufal mengaku bahwa bekal yang dimiliki tidak hanya dari sekolah. Namun juga adanya dukungan sang Ayah yang sangat membantu dalam percobaannya tersebut.
"Kebetulan ayah Naufal bekerja di elektronik. Jadi sedikit banyak saya tahu alat-alat elektronik," paparnya.
07 January 2013
Kurikulum "Berpikir" 2013
|
|
|
|
Guru Besar FE-UI
Di banyak negara, saya sering menyaksikan siswa sekolah atau mahasiswa yang aktif berdiskusi dengan guru atau dosennya. Persis seperti yang dulu sering kita lihat dalam iklan margarin pada tahun 1980-an, atau gairah siswa Wellesley College yang kita lihat dalam film Monalisa Smile.
Sewaktu mengajar di University of Illinois, saya kerap berhadapan dengan anak-anak seperti itu. Karena materi yang harus diajarkan begitu banyak, saya menjawab seperti kebiasaan guru di sini. ”Sebentar ya. Biar saya selesaikan dulu.” Namun, anak-anak itu tetap tak mau menurunkan tangannya sebelum dilayani berdiskusi.
Belakangan saya diberi tahu bahwa pendidik yang baik harus cekatan melayani diskusi, bukan meringkas isi buku. Seorang guru besar senior mengingatkan, ”Kami bersusah payah mengubah satu generasi, dari TK hingga SLTA, mengubah kebiasaan siswa yang malas berpikir menjadi aktif mengeksplorasi dengan lebih percaya diri.”
Mengapa tradisi seperti itu tidak terjadi di sini? Bahkan di perguruan tinggi semakin banyak dosen mengeluh bahwa anakanak sekarang tidak gemar membaca sehingga tidak bisa diajak berdiskusi.
Dihafal, bukan dipikir
Anak-anak kita punya tradisi belajar yang sangat berbeda, yang mengakar sejak taman kanak-kanak. Mata ajaran yang dipelajari jauh lebih banyak, tetapi tidak mendalam. Kalau sulit, rumus yang sangat banyak dibuatkan jembatan keledai atau singkatan-singkatan agar mudah dikeluarkan dari otak.
Cara belajar yang demikian berpotensi menghasilkan ”penumpang” ketimbang ”pengemudi”. Karena itu, banyak orang yang lebih senang duduk menunggu, hidup ”menumpang”, ”dituntun”, atau diarahkan ketimbang menjadi pengemudi yang aktif dan dinamis.
Seperti tampak di angkutan umum, penumpang boleh mengantuk, tertidur, terdiam, sibuk sendiri, tak perlu tahu arah jalan, dan praktis kurang berani mengambil risiko. Sementara pengemudi adalah sosok yang sebaliknya. Karena orangtua juga dibesarkan dalam tradisi belajar yang sama, tradisi serupa ada di rumah. Dengan jumlah mata ajaran yang semakin hari semakin banyak, jumlah yang dihafal siswa di sini juga semakin memberatkan.
29 June 2012
Temuan Peneliti Indonesia Kalahkan Alat Produksi Amerika
JAKARTA, KOMPAS.com — Muhammad Luthfi Nurfakhri, seorang pelajar Indonesia, mampu mengharumkan nama bangsa di kancah internasional. Luthfi adalah iswa kelas XI jurusan IPA, SMAN 1 Bogor, Jawa Barat, yang berhasil menemukan "Digital Leaf Color Chart". Sebuah alat bersensor ganda yang digadang-gadang memiliki obyektivitas tinggi antara penggunaan pupuk dengan hasil tanaman padi.
Dari alat canggih yang ditemukannya, ia berhasil menyabet peringkat III pada Intel International Science & Engineering Fair 2012, sebuah ajang adu kemampuan para peneliti muda dari seluruh dunia yang digelar pada pertengahan Mei lalu, di Pennsylvania, Amerika Serikat.
07 January 2012
Ken Robinson says schools kill creativity
Good morning. How are you? It's been great, hasn't it? I've been blown away by the whole thing. In fact, I'm leaving. (Laughter) There have been three themes, haven't there, running through the conference, which are relevant to what I want to talk about. One is the extraordinary evidence of human creativity in all of the presentations that we've had and in all of the people here. Just the variety of it and the range of it. The second is that it's put us in a place where we have no idea what's going to happen, in terms of the future. No idea how this may play out.
19 December 2011
Meyenangkannya Ilmu Pengetahuan
Betapa menyenangkannya ilmu pengetahuan. Kepada anak-anak, ilmu pengetahuan disampaikan dengan praktik dan menyenangkan. Karena gembira, ilmu pengetahuan yang diajakan mudah diterima dan dipahami lebih cepat oleh anak-anak.
26 November 2011
03 November 2011
What Facebook Users Share: Lower Grades
The study, which will be presented at the annual meeting of the American Education Research Association on April 16, surveyed 219 undergraduate and graduate students and found that GPAs of Facebook users typically ranged a full grade point lower than those of nonusers — 3.0 to 3.5 for users versus 3.5 to 4.0 for their non-networking peers. It also found that 79% of Facebook members did not believe there was any link between their GPA and their networking habits. (See the 50 best websites of 2008.)



