19 January 2013

Mendikbud Diminta Kembangkan Sistem Kuliah "Online"


 


JAKARTA, KOMPAS.com Di depan para rektor se-Indonesia, Wakil Presiden Boediono meminta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh menyusun cetak biru pengembangan sistem pengajaran online berbahasa Indonesia untuk perguruan tinggi di Indonesia. Mendikbud juga diminta mengkaji opsi-opsi yang ada serta merumuskan apa yang dapat dilakukan pemerintah untuk memfasilitasi lembaga-lembaga pendidikan tinggi yang berniat untuk melaksanakannya.

Pengembangan sistem kuliah online juga harus memenuhi standar internasional dan setara dengan universitas-universitas terbaik di dunia.

"Yang sangat penting, sistem online itu harus dapat diakses dan dimanfaatkan oleh semua lembaga pendidikan tinggi dan para mahasiswanya di Tanah Air dengan biaya minimal. Mari kita manfaatkan dengan cerdas teknologi untuk mengatasi masalah-masalah pendidikan kita," kata Boediono ketika membuka Konvensi Kampus Ke-9 dan Temu Tahunan Ke-15 Forum Rektor Indonesia di Semarang, Jumat (18/1/2013).

16 January 2013

BiblioTech, Perpustakaan Umum Pertama di Dunia yang Tidak Memiliki Buku Cetak



Bexar County, sebuah daerah di San Antonio, Texas, Amerika Serikat baru-baru ini mengumumkan rencana untuk membangun sebuah perpustakaan umum bernama BiblioTech. Uniknya, perpustakaan umum yang ditargetkan akan selesai dibangun pada sekitar kuartal ketiga 2013 ini tidak akan memiliki satu pun buku fisik dalam edisi cetak. Alih-alih, BiblioTech akan sepenuhnya menyediakan buku dalam format digital alias e-book.

Rencana ini diprakarsai oleh hakim setempat bernama Nelson Wolff. Diwawancarai oleh situs berita ABC News, Wolff mengatakan, “kita semua mengetahui bahwa dunia sedang berubah. Saya seorang pembaca buku yang sangat gemar. Saya membaca buku dalam format hardcover, saya bahkan memiliki koleksi 1.000 buku edisi pertama. Buku sangat penting bagi saya. Tapi dunia sudah berubah, dan ini adalah cara yang terbaik dan paling efektif untuk melayani komunitas kami”.

15 January 2013

Pelatihan Guru Menyiapkan Kurikulum 2013



Oleh : Ismunandar, Direktur SEAMEO QITEP in Science Bandung

sukemi
Salah satu ciri Kurikulum 2013, yang disebut dalam dokumen uji publik, adalah nantinya pembelajaran akan mengedepankan pengalaman personal melalui observasi (menyimak, melihat, membaca, mendengar), bertanya, asosiasi, menyimpulkan, mengkomunikasikan. Dari berbagai studi, disimpulkan bahwa pembelajaran seperti inilah yang akan meningkatkan kemampuan berfikir tingkat tinggi siswa, dan yang oleh banyak pihak disebut akan mampu menyiapkan generasi yang siap dengan berbagai ketidakpastian masa depan. Namun harus kita sadari bahwa menuju pembelajaran seperti ini tidaklah mudah serta perlu upaya serius yang berkesinambungan. Di beberapa negara perubahan itu dilakukan dalam 10 -15 tahun dengan upaya yang konsisten dan kerjasama para pemangku kepentingan.

Salah satu upaya penting adalah pengembangan profesional guru. Disebutkan dalam dokumen yang sama, bahwa untuk menyiapkan implementasi kurikulum baru akan dilakukan training pada para guru. Bagaimana menyiapkan guru agar dapat mengimplementasikan ciri pembelajaran di atas? Tulisan berikut akan mencoba memberikan beberapa point penting pelatihan yang perlu dilakukan agar tujuan di atas tercapai. Point-point ini disarikan dari berbagai studi yang dilakukan di dalam dan di luar negeri, dengan mempertimbangkan kondisi awal guru kita (hasil studi TIMSS dan UKA).

Dalam bahasa yang umum digunakan, pembelajaran yang mengedepankan observasi, bertanya menyimpulkan dan mengkomunikasikan disebut dengan pembelajaran melalui inkuiri. Agar guru dapat mengimplementasikan pembelajaran inkuiri, pelatihan yang diberikan harus minimal harus memungkinkan guru: (i) melakukan sendiri kegiatan inkuiri, (ii) mendapatkan pengalaman langsung bagaimana pembelajaran terjadi (how people learn) dan peran guru dalam pembelajaran inkuiri. Dengan kata lain agar guru dapat mengimplementasikan pembelajaran yang diharapkan maka pelatihan harus dilakukan dengan pendekatan yang sama dengan cara pembelajaran yang diharapkan akan terjadi di kelas nantinya.

08 January 2013

Essa Academy: di Bolton Belajar Tanpa Buku



Essa Academy, sekolah menengah di Bolton, Inggris tengah, melakukan tero­bosan dengan meninggalkan buku sama sekali, terutama dalam proses belajar mengajar di kelas. Fungsi buku digantikan oleh iPad, yang dibagikan kepada 840 murid dan staf pengajar.

“Buku dan pena adalah produk teknologi yang kita manfaatkan sejak dulu. Sekarang kami memakai komputer tablet. Saya kira ini adalah perkembangan yang alamiah dan wajar,” kata Showk Badat, kepada sekolah Essa Academy.

Jane Taylor, guru matematika, memberi tes kepada murid. Karena semua iPad murid terhubung ke iPad miliknya, ia bisa langsung me­ngetahui siapa saja yang sudah se­lesai dan ia juga bisa langsung me­ngetahui skor masing-masing siswa.

Diatur khusus

“Teknologi mempermudah saya untuk mengetahui kemajuan siswa secara instan,” kata Taylor.
Murid-murid di Essa Academy mengaku senang dengan alat bantu komputer tablet ini.
“Awalnya aneh, tetapi lama-kelamaan terbiasa dan tentu saja keren menggunakan iPad untuk belajar,” kata seorang siswi.

Ia juga mengatakan senang karena sekarang ia tak perlu membawa buku-buku tebal.
Kelebihan lain dengan pe­manfaatan iPad adalah, murid bisa menghubungi guru kapan saja ketika menghadapi kesulitan mengerjakan pekerjaan rumah, yang semuanya juga dikerjakan di iPad.
Komputer tablet yang dibagikan kepada siswa memiliki setting atau pengaturan khusus yang membuat mereka tidak bisa mengakses situs-situs yang tak dibolehkan sekolah seperti pornografi.

(Sumber : http://www.bbc.co.uk/news/education-20930195
-->

07 January 2013

Kurikulum "Berpikir" 2013

 

 

Oleh Rhenald Kasali
Guru Besar FE-UI

Di banyak negara, saya sering menyaksikan siswa sekolah atau mahasiswa yang aktif berdiskusi dengan guru atau dosennya. Persis seperti yang dulu sering kita lihat dalam iklan margarin pada tahun 1980-an, atau gairah siswa Wellesley College yang kita lihat dalam film Monalisa Smile.

Sewaktu mengajar di University of Illinois, saya kerap berhadapan dengan anak-anak seperti itu. Karena materi yang harus diajarkan begitu banyak, saya menjawab seperti kebiasaan guru di sini. ”Sebentar ya. Biar saya selesaikan dulu.” Namun, anak-anak itu tetap tak mau menurunkan tangannya sebelum dilayani berdiskusi.

Belakangan saya diberi tahu bahwa pendidik yang baik harus cekatan melayani diskusi, bukan meringkas isi buku. Seorang guru besar senior mengingatkan, ”Kami bersusah payah mengubah satu generasi, dari TK hingga SLTA, mengubah kebiasaan siswa yang malas berpikir menjadi aktif mengeksplorasi dengan lebih percaya diri.”

Mengapa tradisi seperti itu tidak terjadi di sini? Bahkan di perguruan tinggi semakin banyak dosen mengeluh bahwa anakanak sekarang tidak gemar membaca sehingga tidak bisa diajak berdiskusi.

Dihafal, bukan dipikir

Anak-anak kita punya tradisi belajar yang sangat berbeda, yang mengakar sejak taman kanak-kanak. Mata ajaran yang dipelajari jauh lebih banyak, tetapi tidak mendalam. Kalau sulit, rumus yang sangat banyak dibuatkan jembatan keledai atau singkatan-singkatan agar mudah dikeluarkan dari otak.

Cara belajar yang demikian berpotensi menghasilkan ”penumpang” ketimbang ”pengemudi”. Karena itu, banyak orang yang lebih senang duduk menunggu, hidup ”menumpang”, ”dituntun”, atau diarahkan ketimbang menjadi pengemudi yang aktif dan dinamis.

Seperti tampak di angkutan umum, penumpang boleh mengantuk, tertidur, terdiam, sibuk sendiri, tak perlu tahu arah jalan, dan praktis kurang berani mengambil risiko. Sementara pengemudi adalah sosok yang sebaliknya. Karena orangtua juga dibesarkan dalam tradisi belajar yang sama, tradisi serupa ada di rumah. Dengan jumlah mata ajaran yang semakin hari semakin banyak, jumlah yang dihafal siswa di sini juga semakin memberatkan.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Scholarship Information :

Posting Terkini di e-Newsletter Disdik :

Arsitektur today :