06 May 2014

Handphone, media yang perlu disiasati

Penulis : Jordan Andrean, CCNA , OCCA , OSCP

Media secanggih handphone perlukah untuk disiasati?

Handphone/mobile phone/telepon seluler merupakan sebuah piranti telekomunikasi yang tak diragukan lagi penggunaannya bagi seluruh orang. Kehadirannya mampu memenuhi kebutuhan hidup khalayak. Kecanggihan yang dimiliki handphone dari waktu ke waktu seolah-olah memberikan solusi terhadap pemecahan masalah informasi dan komunikasi. Akibatnya, handphone menjadi media informasi dan komunikasi yang memiliki mobilitas tinggi bagi masyarakat.

Segala bentuk informasi yang ada di seluruh didunia mampu diakses dimana pun dan kapan pun orang membutuhkannya. Apalagi hal tersebut didukung oleh sarana internet dengan daya akses yang cepat dan murah. Orang akan lebih mudah melakukan browsing tanpa adanya sekat waktu dan ruang yang membatasinya, termasuk pula segala bentuk informasi pendidikan.

Handphone memiliki daya akses yang luar biasa untuk mencari informasi pendidikan.
Beberapa sumber memberikan informasi bahwa di beberapa kota seperti Surakarta, Purworejo, Mojokerto, dan Cimahi ada beberapa sekolah yang telah melarang siswa setingkat SMP atau SMA negeri untuk membawa handphone ke sekolah. Sekolah tersebut berdalih bahwa telah terjadi degradasi moral yang diakibatkan oleh handphone. Sungguh hal ini merupakan sesuatu yang sangat fenomenal.

Satu sisi, handphone merupakan sarana akses informasi yang sangat potensial. Di sisi lain, kehadirannya di sekolah dilarang.

05 March 2014

Kemendikbud sebut UN akan dilakukan secara online

Foto ilustrasi ; BR on Campus (http://blogs.itb.ac.id)

Sindonews.com - Tahun depan Ujian Nasional (UN) akan dilaksanakan secara online. Tidak ada lagi naskah kertas, karena siswa akan mengerjakan soal di depan komputer.

Hal tersebut dikatakan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Wamendikbud) bidang Pendidikan Musliar Kasim. Menurutnya, UN akan diterapkan dengan computer based test.

Musliar mengungkapkan, pemerintah akan menunjuk satu sekolah sebagai pusat tempat ujian. Tidak hanya di provinsi, namun ada yang di kecamatan. “UN akan online dan offline. Soalnya akan dibuat lebih canggih tanpa perlu ada kertas-kertas yang dicetak,” katanya di Gedung Kemendikbud, Jakarta, Senin 3 Maret 2014.

 

 


Mantan Rektor Universitas Andalas ini menjelaskan, saat ini Kemendikbud sedang membuat system trial and error. Kemendikbud akan mencoba beberapa tes untuk mengetahui kemungkinan kegagalan.

Mengenai infrastruktur komputer, dia menjelaskan, tidak akan ada masalah karena setiap sekolah negeri sudah mempunyai komputer sendiri. Kemungkinan di satu provinsi akan ditunjuk 10-30 sekolah sebagai pusat tempat ujian.

Dia menyebutkan, belum dapat dipastikan apakah hasil UN dapat diketahui setelah selesai ujian. Namun tanggal tes akan dibuat berbeda per masing-masing sekolah.

Masyarakat pun diminta jangan khawatir ada kebocoran karena variasi soal akan dibuat lebih banyak lagi oleh perguruan tinggi sehingga setiap siswa akan menerima soal yang berbeda-beda. “Jika memang diperlukan kerja sama dengan Lemsaneg (Lembaga Sandi Negara) maka akan kami lakukan,” terangnya.

Musliar menyebutkan, sistem online ini akan menghemat anggaran negara untuk UN. Diperkirakan anggaran UN akan dihemat sebesar 50 persen dari anggaran UN tahun ini sebesar Rp580 miliar.

Penghematan terjadi pada tidak adanya pencetakan naskah soal dan lembar jawaban dan juga pengawasan distribusi soal dan lembar jawaban. Pemerintah juga berkeyakinan, sistem online akan menjadikan UN yang bermutu, bermartabat dan bermanfaat.

[Sumber : http://nasional.sindonews.com/]
 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Scholarship Information :

Posting Terkini di e-Newsletter Disdik :

Arsitektur today :