04 August 2015

Kesalahan Fatal Mantan Mahasiswa Setelah Wisuda adalah Mencari Pekerjaan!

 
 
Oleh : Benni Indo

Wisuda, impian setiap mahasiswa yang kuliah. Sebagian dari mereka beranggapan wisuda adalah pencapaian tertinggi yang tidak bisa ditawar oleh apapun dan berapa pun nilainya. Bisa saya katakan seperti itu karena hingga saat ini saya belum pernah menemukan ada mahasiswa bersedia tidak lulus sekalipun diberi uang dengan jumlah banyak.

Dan, begitu prosesi wisuda berlangsung, tawa merekah di setiap wajah calon mantan mahasiswa itu terlihat. Para sanak keluarga datang ikut menyaksikan pengukuhan wisuda. Tapi, ada sebuah kesalahan yang biasa dipilih oleh para lulusan (baca: mantan mahasiswa) setelah wisuda.

"Apakah kesalahan itu? Kesalahan itu ialah mencari kerja!"

Apakah di antara kalian ada yang bertanya-tanya apa salahnya mencari kerja? Ya, mencari kerja itu ialah kesalahan. Bisa saya katakan seperti itu karena kerja adalah tekanan. Ketika mantan mahasiswa itu memutuskan untuk mencari pekerjaan, di situlah ia memutuskan bersedia menjadi ‘mesin’ yang aktivitasnya berada di bawah tekanan.

Berbagi dari pengalaman hidup, teman saya, sebut saja Batang, yang telah menjadi mantan mahasiswa tersiar kabar mendapat pekerjaan setelah wisuda. Ia begitu bahagia memperoleh pekerjaan. Semua teman yang ia temui selalu diperdengarkan tentang pekerjaannya dengan tawa yang mengiringi. Ya, tawa yang ceria. Senang bisa melihat dia tertawa, karena beberapa bulan sebelumnya, ia sering merengut mengadu akibat skripsi yang tak kunjung ‘direstui’ dosen.

Belum sampai di situ saja, ia bekerja di sebuah perusahaan dengan upah yang sangat tinggi. Terbayangkan kenapa dia tersenyum begitu bahagia? Tapi, eits…! tunggu dulu! Dapat pekerjaan dan digaji tinggi? Apakah itu kebahagiaan?

30 July 2015

Apakah Internet Menguping Percakapan Pribadi Kita?

Semakin banyak alat digital yang dilengkapi mikrofon dan kamera yang terhubung dengan Internet, yang membuat banyak orang khawatir mereka diintai.




Seperti remaja pada umumnya, Aanya Nigam berbagi lokasi ia berada, aktivitas dan apa yang ada dalam pikirannya di Twitter, Instagram dan jaringan sosial lainnya tanpa ragu.
Namun sikapnya yang santai berubah menjadi paranoia beberapa bulan lalu tak lama setelah ibunya membeli Echo produksi Amazon, alat bantu digital yang dapat dipasang di rumah atau kantor untuk mendengarkan berbagai permintaan, seperti untuk lagu, skor olahraga, cuaca, atau bahkan buku untuk dibaca dengan bersuara.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Scholarship Information :

Posting Terkini di e-Newsletter Disdik :

Arsitektur today :