18 September 2015

Seperti Ini Jam Rakitan Ahmed Mohamed yang Disangka Bom

Jam rakitan itu dibuat ke dalam sebuah kotak oleh Ahmed Mohamed dan akan diperlihatkan kepada gurunya di McArthur School, tetapi apa daya justru gurunya ketakutan karena curiga jika jam tersebut adalah sebuah bom.
Polisi pun mendatangi sekolah tersebut dan mengamankan jam rakitan buatan Ahmed serta menangkap Ahmed. Sebuah kecurigaan yang tidak terbukti dan menambah daftar Islamophobia di Amerika Serikat.
Lalu seperti apa bentuk jam yang dibuat oleh Ahmed Mohamed?

Jam rakitan itu diletakkan pada sebuah wadah berbentuk kotak mirip koper (beberap menyebut kotak pensil). jam digital tersebut memiliki display berbentuk persegi panjang yang terletak di bagian atas yang dihubungkan dari papan sirkuit. Agar berfungsi jam tersebut dihubungkan dengan colokan listrik.

Jam tersebut dirakit ahmed di kamar tidurnya pada saat weekend. Ahmed Mohamed memang menyukai elektronika. Bahkan di kamar tidurnya ia masih memiliki berbagai benda-benda elektronika yang dirakitnya sendiri.
Akibat dari kejadiannya ini beberapa hal menarik yang terima oleh Ahmed Mohamed diantaranya :
–  Undangan dari White House Astronomy Night
–  Keanggotaan seumur hidup dari Dallas electronics club
–  Beasiswa ke Space Camp (NASA Marshall)
–  Lab tour ke MIT CSAIL (Computer science and artificial intel)
–  Undangan mengunjungi kantor Facebook dari Zuckerberg
–  Undangan mengunjungi laboratorium Telescope di UT Austin
–  Undangan mengunjungi markas besar General Electric (GE)
–  tshirt NASA dari astronot Daniel Tani.
Video wawancara Ahmed Mohamed di Dallas News menjelaskan mengenai jam rakitannya yang disangka bom.


Sumber : 
http://www.aktualita.co/
http://www.dw.com/id/dukungan-mengalir-bagi-remaja-muslim-yang-dituduh-teroris/a-18719363

04 August 2015

Kesalahan Fatal Mantan Mahasiswa Setelah Wisuda adalah Mencari Pekerjaan!

 
 
Oleh : Benni Indo

Wisuda, impian setiap mahasiswa yang kuliah. Sebagian dari mereka beranggapan wisuda adalah pencapaian tertinggi yang tidak bisa ditawar oleh apapun dan berapa pun nilainya. Bisa saya katakan seperti itu karena hingga saat ini saya belum pernah menemukan ada mahasiswa bersedia tidak lulus sekalipun diberi uang dengan jumlah banyak.

Dan, begitu prosesi wisuda berlangsung, tawa merekah di setiap wajah calon mantan mahasiswa itu terlihat. Para sanak keluarga datang ikut menyaksikan pengukuhan wisuda. Tapi, ada sebuah kesalahan yang biasa dipilih oleh para lulusan (baca: mantan mahasiswa) setelah wisuda.

"Apakah kesalahan itu? Kesalahan itu ialah mencari kerja!"

Apakah di antara kalian ada yang bertanya-tanya apa salahnya mencari kerja? Ya, mencari kerja itu ialah kesalahan. Bisa saya katakan seperti itu karena kerja adalah tekanan. Ketika mantan mahasiswa itu memutuskan untuk mencari pekerjaan, di situlah ia memutuskan bersedia menjadi ‘mesin’ yang aktivitasnya berada di bawah tekanan.

Berbagi dari pengalaman hidup, teman saya, sebut saja Batang, yang telah menjadi mantan mahasiswa tersiar kabar mendapat pekerjaan setelah wisuda. Ia begitu bahagia memperoleh pekerjaan. Semua teman yang ia temui selalu diperdengarkan tentang pekerjaannya dengan tawa yang mengiringi. Ya, tawa yang ceria. Senang bisa melihat dia tertawa, karena beberapa bulan sebelumnya, ia sering merengut mengadu akibat skripsi yang tak kunjung ‘direstui’ dosen.

Belum sampai di situ saja, ia bekerja di sebuah perusahaan dengan upah yang sangat tinggi. Terbayangkan kenapa dia tersenyum begitu bahagia? Tapi, eits…! tunggu dulu! Dapat pekerjaan dan digaji tinggi? Apakah itu kebahagiaan?
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Scholarship Information :

Posting Terkini di e-Newsletter Disdik :

Arsitektur today :